Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 327248

Email

perpustakaan@iainmadura.ac.id

Influencer vs Sumber Akademik: Tantangan Literasi Generasi Digital

  • Diposting Oleh Admin Web Perpustakaan
  • Jumat, 27 Maret 2026
  • Dilihat 14 Kali
Bagikan ke

Saat ini media sosial menjadi salah satu sumber informasi yang paling sering diakses oleh mahasiswa. Banyak orang mendapatkan pengetahuan bukan lagi dari buku atau jurnal, tetapi dari konten yang dibuat oleh influencer di platform seperti TikTok, Instagram, atau YouTube. Penyampaian yang singkat, santai, dan mudah dipahami membuat informasi dari influencer terasa lebih menarik dan cepat dikonsumsi.

Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah semua informasi dari influencer bisa langsung dipercaya?

Influencer memang mampu menjelaskan berbagai topik dengan cara yang lebih ringan dan relatable. Konten berdurasi singkat sering membuat informasi terasa praktis dan mudah dipahami. Tidak heran jika banyak mahasiswa lebih memilih menonton video singkat dibandingkan membaca artikel atau jurnal yang lebih panjang.

Di sisi lain, sumber akademik seperti buku, jurnal ilmiah, atau penelitian biasanya memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi. Informasi yang disampaikan telah melalui proses penelitian dan kajian yang lebih mendalam. Meski begitu, bahasa yang formal dan pembahasan yang lebih kompleks sering membuat sumber akademik terasa kurang menarik bagi sebagian mahasiswa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi digital menghadapi tantangan literasi yang cukup besar. Akses informasi memang semakin luas, tetapi kemampuan untuk menilai kredibilitas informasi menjadi semakin penting.

Literasi saat ini tidak hanya berarti mampu membaca, tetapi juga mampu memahami sumber informasi, mengecek kebenarannya, dan berpikir kritis terhadap konten yang beredar di internet. Tanpa kemampuan ini, seseorang bisa dengan mudah percaya pada informasi yang sebenarnya belum tentu akurat.

Bagi mahasiswa, konten influencer sebenarnya bisa menjadi pintu awal untuk mengenal suatu topik. Namun untuk memahami informasi secara lebih mendalam, tetap diperlukan referensi yang lebih kredibel seperti buku, jurnal, atau sumber akademik lainnya.

Pada akhirnya, perkembangan media sosial memang mengubah cara generasi muda memperoleh informasi. Tantangannya adalah bagaimana mahasiswa mampu bersikap lebih kritis dan tidak langsung percaya pada setiap konten yang muncul di media sosial.

Di tengah banjir informasi digital, kemampuan literasi menjadi kunci penting. Bukan hanya soal cepat mendapatkan informasi, tetapi juga mampu memahami dan memverifikasi informasi dengan bijak.